Wednesday, May 2, 2012

HARDIKNAS antara Harapan Dan Kenyataan

Saya teringat kembali cuplikan film alangkah lucunya Negeri ini, di mana ada sebuah dialog antara bg Muluk dgn bang Samsul.terkait dgn Pendidikan. dalam film ini  Bg Muluk seorang Sarjana Ekonomi setelah pontang-panting mencari kerja, akhirnya mendapatkan pekerjaan. tugasnya memanagemen keuangan Para pencopet. di satu sisi Dia merasa bersalah dengan profesi barunya, mengingat Dia berasal dari keluarga yang taat dalam menjalankan kehidupan sebagai seorang Muslim. di sisi lain Dia ingin agar profesi barunya bisa di manfaatkan sebaik mungkin, toh Dia juga punya tekad untuk memberikan pencerahan kepada para pencopet yg mayoritas adlah anak-anak usia produktif sekolah agar kelak mereka memiliki harapan untuk sukses. dalam menjalankan program-program pengembangan SDMnya, Bang Muluk  merekrut bang Samsul yg notabennya seorang PeDaGang(pengangguran dlam Gang) dgn titel S.Pd untuk membantu memberikan pencerahan kepada anak2 mengajari mereka baca-tulis. suatu ketika, setelah bang Samsul mengajari anak2 pencopet belajar, Bang Muluk berdebat dengan bang Samsul. Bang muluk katakan bahwa pendidikan itu penting, sementara bang amsul bersikeras dengan argumennya bahwa pendidikan itu tidak penting.hingga meraka mencapai sebuah kesepahaman bahwa PENDIDIKAN itu penting. Karena berpendidikan, maka kita tahu bahwa pendidikan itu tidak penting.
sahabat, Saya sepakat bahwa Pendidikan merupak salah satu Pilar penyanggah kebangkitan Negeri ini. Namun Realita skarang menunjukkan, mengapa banyak mereka yang telah belajar di bangku sekolah hingga perguruan tinggi belum mampu mandiri ketika telah selesai sekolah atau mendapatkan gelar sarjana, sementara tujuan pendidikan adalah menjadikan pribadi-pribadi mandiri. pasca sekolah di harapkan para peserta didiknya memiliki karakter mulia, tapi ihatlah kondisi pelajar-pelajar Kita, baru-baru ini habis ujian sekolah, mereka ikut tawuran, membawa senjata tajam, nyerang sekolah lain.
Negeri ini perlu menelaah kembali sistem-sistem pendidikan yang ada, terhitung 9 kali pergantian kurikulum setelah kemerdekaan, belum bisa membuat kemajuan pendidikan di tanah air. bukankah jepang yang saat ini maju, masih kalah start dgn indonesia dalam memajukan pendidikan di negeri masing-masing.  tetapi mengapa mereka bisa lebih maju dari Indonesia.

Tuesday, May 1, 2012

Hardiknas yang “Kehilangan makna

Undang-Undang Dasar 1945 bertekad untuk mencerdaskan kehidupan bangsa, memperoleh pendidikan adalah hak setiap warga Negara. Jadi tidaklah berlebihan, jika pendidikan itu juga merupakan bagian dari Hak Azasi Manusia (HAM).
Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) tanggal 2 Mei setiap tahunnya diperingati oleh pemerintah khususnya Departemen Pendidikan Nasional. Peringatan Hardiknas ini juga dilaksanakan di seluruh daerah, baik propinsi maupun kabupaten/kota. Untuk menghilangkan image negative dari masyarakat khususnya kalangan orang tua murid yang tidak mampu, bahwa acara peringatan tersebut hanya akal-akalan dan menghabiskan anggaran, biasanya acara peringatan ini dikemas dengan label “syukuran”.

Kondisi salah satu sekolah dasar Negeri di Kabupaten Langkat, Sumatera Utara. Memprihatinkan
Bertepatan dengan hari pendidikan tersebut, diberbagai daerah tanah air kita juga terjadi aksi demonstrasi yang dilakukan bebagai kalangan khususnya mahasiswa dan aktivis yang peduli terhadap kelangsungan pendidikan di Indonesia. Tuntutan para demonstran pada hari pendidikan tahun ini kebanyakan adalah penghapusan komersialisasi pendidikan dan menagih janji pemerintahan presiden Susilo Bambang Yudhoyono agar segera merealisasikan yang diucapkannya pada saat kampanye Pilpres tahun 2004 yang lalu, yaitu akan mengalokasikan anggaran pendidikan sebesar 20% jika terpilih menjadi presiden.

Masih pada bulan Mei 2005 ini, kita juga dibuat terkejut, sedih bercampur malu membaca berita yang dimuat berbagai media massa tentang kasus bunuh diri seorang siswa akibat orang tuanya tidak mampu membayar uang sekolah. Kita yakin, semua pihak pasti setuju bahkan sangat mengharapkan peningkatan anggaran untuk sector pendidikan segera direalisasikan. Lalu, benarkan jika pemerintah mengalokasikan anggaran pendidikan sebesar 20% dari APBN segala persoalan pendidikan selama ini dapat teratasi dan kasus bunuh diri siswa diatas tidak terulang lagi ?. Dan siapa yang bisa menjamin bahwa anggaran sebesar itu tidak akan lagi dicuri oleh “Gerombolan Maling” yang masih banyak dan bebas berkeliaran di negeri ini ?.
Besarnya jumlah anggaran yang dialokasikan untuk pendidikan bukanlah suatu jaminan bagi masyarakat untuk mendapatkan pendidikan yang murah, apalagi gratis. Bahkan jika penegakan hukum di negeri ini masih tetap seperti “sarang laba-laba” mungkin keinginan untuk memperoleh pendidikan gratis tersebut hanya akan tetap merupakan sebuah wacana atau hanya akan ada di dalam mimpi belaka.
Sebagai gambaran bahwa besarnya anggaran untuk sector pendidikan bukanlah jaminan persoalan pendidikan dapat teratasi, pada tahun 2004 lalu Pemerintah Kabupaten Langkat telah mengalokasikan dana untuk sector pendidikan yang bersumber dari Anggaran pendapatan Belanja Daerah (APBD) sebesar Rp. 184.511.123.000,- atau sekitar 43 % dari Total APBD Langkat yaitu Rp. 421.574.725.000,- Dari jumlah tersebut, Rp.162.608.859.000,- adalah untuk belanja aparatur daerah pada Pos TK/SDN/SLTPN/SMUN/SMKN. Bukankah anggaran tersebut cukup besar jika dilihat secara umum ?. Lalu dapatkah masyarakat Kabupaten Langkat menikmati pendidikan yang murah tapi bermutu ?. Belum tentu, sebab ternyata di daerah ini masih banyak ditemukan anak usia sekolah yang tidak bersekolah (putus sekolah) disebabkan ekonomi orangtuanya yang tidak mampu.
Biaya pendidikan di sekolah pemerintah dan sekolah yang dikelola oleh swasta di Kabupaten Langkat sama mahalnya, sebab pada kenyataannya sama-sama dikomersialisasikan. Walaupun pemerintah melalui dinas pendidikan telah mengalokasikan anggaran yang cukup besar, tapi komersialisasi pendidikan tetap berjalan seperti tidak mendapatkan hambatan. Bahkan jika kita teliti secara lebih mendalam akan ditemukan indikasi kebocoran anggaran yang sangat besar di dinas ini. Semakin besar anggaran yang dialokasikan, maka semakin besar tingkat kebocoran tersebut. Tidaklah heran jika banyak yang berasumsi bahwa di dinas ini telah terjadi “Korupsi ganda”.
Hal seperti ini dapat kita lihat pada saat dilangsungkannya Ujian Akhir Sekolah (UAS) atau Ujian Akhir Nasional (UAN) tahun lalu. Tidak ada satu sekolahpun yang mengakui bahwa mereka telah mengutip uang ujian, sebab hal tersebut dilarang oleh Dinas pendidikan. Tapi para siswa mengaku membayar uang ujian dan dibebankan membayar uang perpisahan yang jumlahnya kadangkala mencapai puluhan bahkan ratusan ribu rupiah. Padahal masih berdasarkan APBD Langkat TA.2004 Dinas pendidikan daerah ini telah mengalokasikan anggaran untuk UAS sebesar Rp. 1.290.237.500,-. Jumlah tersebut adalah untuk biaya pelaksanaan UAS 46.431 siswa yang terdiri dari 6069 siswa SMU, 16.022 siswa SLTP/MTs, 3340 siswa SMK dan 21.000 siswa SD. Anggaran ini meliputi biya cetak lembar jawaban dan soal, biaya transport monitoring UAS dan biaya untuk koreksi ujian.
Dari jumlah tersebut juga diketahui bahwa biaya UAS satu orang siswa adalah Rp.37.500,- untuk siswa SMU, Rp. 30.000,- untuk SLTP/MTs, Rp. 48.500,- untuk SMK dan Rp.21.500, untuk SD. Disamping itu Dinas Pendidikan Langkat juga mengalokasikan anggaran sebesar Rp. 499.880.000,- untuk pembelian buku paket IPA, IPS dan Matematika khusus untuk siswa Sekolah Dasar. Namun ternyata semua siswa SD tetap dibebani dengan biaya pembelian buku paket yang harganya mencapai Rp.100.000,-/siswa.
Rendahnya mutu pendidikan di Indonesia salah satunya adalah diakibatkan buruknya system manajerial dan besarnya tingkat kebocoran anggaran . Ditambah dengan banyaknya jumlah guru yang tidak memenuhi kualifikasi menyebabkan pendidikan di negeri ini “bagai cahaya lilin yang hampir padam”. Berdasarkan data dari Direktur Tenaga Kependidikan (Ditendik) Dikdasmen Depdiknas tahun 2004, tercatat guru SD, SLTP dan SMU yang tidak memenuhi kualifikasi pendidikan minimal sebanyak 991.243 guru atau 45,96%. Sementara yang memenuhi kualifikasi pendidikan minimal 1.165.354 orang atau 50,04% dari total 2.156.597 guru diseluruh Indonesia. Jadi tidaklah salah jika Amidhan, salah seorang anggota Komisi Nasional Hak Azasi Manusia (Komnas HAM) mengatakan bahwa dalam beberapa tahun terakhir ini pendidikan di Indonesia mengalami kemunduran, bahkan telah sampai pada situasi krisis.
Uraian di atas mungkin dapat menjadikan gambaran bagaimana sebenarnya kondisi pendidikan di negeri kita. Jadi, peringatan Hardiknas yang dilaksanakan oleh berbagai daerah terutama Dinas pendidikan tahun ini dan dikemas dengan label “syukuran” mungkin menjadi peringatan Hardiknas yang “Kehilangan makna” dan hanya sekedar “seremoni” belaka. Dan masih yakinkah kita bahwa alokasi anggaran sebesar 20% dari APBN dapat menyelesaikan persoalan di bidang pendidikan ?. Bagaimana menurut anda ?. Salam.
* Penulis adalah Koordinator Kelompok Studi dan Edukasi Masyarakat Marginal

(K-SEMAR) Sumatera Utara.
* Artikel ini telah diterbitkan di Surat Kabar Harian BERSAMA, Jum’at, tanggal 20 Mei 2005.
Sumber :http://ksemar.wordpress.com/2008/01/27/peringatan-hardiknas-yang-“kehilangan-makna”

Friday, April 27, 2012

)( Pontianak Berseri )(


Persepsi apa yang timbul di benak Anda terkait dengan Sampah yang ada di lingkungan sekitar Kita!!??
sampah yang memenuhi selokan, sudut-sudut pasar, lingkungan sekolah, area terminal, di bahu jalan yang biasa anda lewati, di Gang-gang sempit perkotaan dan masih banyak lagi tempat yang menjadi sarang bertumpuknya sampah merupakan realita yang terjadi di lingkungan masyarakat saat ini. atau bahkan di rumah Kita, yang tentu tidak luput dari sampah.
Sampah merupakan konsekuensi dari segala aktifitas manusia, yang dalam kesehariannya jumlah sampah akan sebanding dengan tingkat konsumsi terhadap material yang di gunakan. begitupula dengan jenis sampah, akan di tentukan oleh jenis barang/material yang di gunakan.
Jenis-jenis sampah
secara umum sampah di bedakan menjadi 2 jenis, yaitu : 1. Sampah Organik (biasa di sebut dengan sampah Basah) sampah organik berasal dari makhluk hidup. seperti, daun-daunan, sampah dapur, dll.sampah jenis ini dapat terdegradasi (membusuk/hancur) secara alami. 2. sampah Non Organik (sampah Kering) sampah jenis ini berasal dari material-material hasil dari inidustri umumnya seperti plastik kertas, kaleng dll. sampah jenis ini tidak dapat terdegradasi secara alami.
Penanganan sampah
Dalam sebauh Seminar Nasional yang diadakan oleh Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan (FTSL ) ITB bekerjasama dengan Universitas Okayama Jepang mengangkat Tema Pengelolaan Sampah Dengan Pendekatan 3R Berbasis Masyarakat pada Selasa (28/06/11). menghasilkan sebuah konsepan baru terkait dengan penaanganan sampah di Indonesia. kalau selama ini pemerintah mensosialisasikan kepada masyarakat dengan konsep rause dan recycle dimana masyarakat mengumpulkan sampah dari rumah kemudian membuangnya ke Tempat Pembuangan Sampah (TPS) yang ada. maka di sini di hasilkan sebuah konsepan baru yaitu adanya pemilahan sampah tingkat rumah tangga yang kemudian
dikumpulkan secara terpisah berdasarkan kategori oleh pemerintah kota. Semua pihak yang terkait dengan
pengadaan sampah dan pengelolaannya harus turut serta dalam usaha peningkatan kualitas. Pihak
konsumen/ rumah tangga harus mengurangi sampah dan memilahnya, pemerintah bertanggung jawab
terhadap pengumpulan sampah, dan pabrik berperan dalam re-komersialisasi produk daur ulang.

Saat ini penanganan sampah untuk wilayah Kota Pontianak, Dinas kebersihan dan Pertamanan (DKP) Kota Pontianak telah memberlakukan gerakan 3 R yaitu Reduce (mengurangi) sampah, Recycle (mendaur ulang) sampah serta Reuse (pemanfaatan) sampah.yang di harapkan mampu menjadi solusi atas permasalahan penanggulangan sampah. dengan melibatkan kelompok masyarakat di tingkat kelurahan secara langsung.
dari segi ekonomis penanganan sampah 3 R ini bisa meningkatkan pendapatan masyarakat apabila di kelola dengan baik. sampah organik bisa di manfaatkan sebagai pupuk Kompos, sedangkan non organik bisa di pilah untuk di jual ke penadah atau di manfaatkan untuk membuat kerajinan tangan setidaknya demikian harapan dari Pemerintah Kota.
namun sejauh ini, sosialisasi kepada masyarakat terkait dengan Gerakan 3 R ini belum berjalan maksimal. karna masih banyak warga yang tidak mengetahui pengoptimalan dalam penanganan sampah ini. yang harusnya bisa direalisasikan di tingkat Rumah tangga dengan  penanganan secara langsung oleh RT/RW setempat.
tentu saja selaku warga pontianak Kita Merindukan Kota yang Bersih dan Asri (berseri) dari Polusi, Kota yang akan memberikan ketentraman bagi siapapun yang menghuniny.
Bayu(BIP_Manjadda wa jadda)


Wednesday, April 25, 2012

Ammatu Syabab_"Semangat Para Pemuda"


Lintasan sejarah di dunia ini dengan berbagai macam peristiwa pentingnya tak pernah terlewatkan kecuali di dalamnya ada para pemuda. Sejarah telah mencatat kiprah pemuda ini telah mempengaruhi dinamisasi dan rekayasa sosial dalam sebuah masyarakat. Sejarah pun kembali mencatat bahwa periode emas mereka yaitu 10 – 40 tahun menjadi potensi tersendiri untuk berperan aktif dalam melakukan pergerakan dan perubahan.
Banyak tokoh di dunia ini yang menghiasi masa mudanya dengan penuh perjuangan dan pergolakan. Seorang Napoleon Bonaparte, pada waktu umur 26 tahun telah mampu memimpin pasukan untuk melawan pemberontak di Perancis yang menjadikannya terkenal seantero Perancis. Begitpun Adolf Hitler, memulai karir militernya pada usia 25 tahun yang turun langsung dalam Perang Dunia I dan memulai karir politiknya pada usia 32 tahun hingga menjadi seorang kanselir Jerman pada usia 40 tahun.
Tidak kalah dengan tokoh-tokoh Barat yang notabene orang kafir, kaum muslim pun pantas berbangga dengan kehadiran sosok-sosok pemuda yang menghiasi sejarah dunia dengan tinta emasnya. Ketika menjelang wafatnya, Rasulullah Saw. telah menunjuk dan mengangkat seorang pemuda pemberani berusia 17 tahun untuk memimpin pasukan perang yang usia para tentaranya kebanyakan di atas usianya. Dialah Usamah ibn Zaid ibn Haritsah anak maula Rasulullah Saw.  Sebelumnya, pada awal Rasulullah Saw. diutus, Beliau dilindungi an-nashirun muda yang sebagian besar umurnya antara 10 hingga 40 tahun. Merekalah assabiqun al-awwalun. Pada masa kekhilafahan Turki Utsmani, sejarah pun tak akan lupa dengan kisah heroik seorang pemuda berusia 24 tahun. Dia memimpin pasukan kaum muslim dan berhasil membuktikan kebenaran janji Rasulullah Saw.  yaitu penaklukan konstantinopel. Dialah Muhammad al Fatih.
Emosi yang serupa pun terjadi di Indonesia. Masih ingat dalam benak kita bagaimana perjuangan melawan penjajah Belanda yang banyak dihiasi oleh para pemuda. Beberapa dekade yang lalu yaitu pada tahun 1966 dan 1998, di sini membuktikan bahwa pemuda atau mahasiswa memiliki peran yang signifikan dalam sebuah transformasi masyarakat dan konstelasi perpolitikan di Indonesia dengan menjatuhkan rezim yang sedang berkuasa saat itu.

Pemuda/Mahasiswa Harapan Umat


Sebagai bagian yang tak terpisahkan dari umat Islam, pemuda/mahasiswa muslim dalam hal ini, memiliki peran dan potensi tersendiri baik itu untuk menghancurkan umat maupun membangkitkan umat. Ada sebagian pemuda/mahasiswa yang memang secara sadar dan sengaja berperan aktif dalam rangka penghancuran umat karena dirinya sudah terbeli oleh orang kafir. Akan tetapi, ada juga yang secara tidak sadar bahwa perjuangannya itu akan melemahkan umat dan lambat laun menuju kepada kehancuran umat. Dengan kenyataan seperti ini, tentu kita tidak ingin menjadi bagian dari proses dekonstruksi umat, baik itu secara sadar maupun tidak sadar.
Umat Islam adalah umat yang satu, di mana antara umat yang satu dengan yang yang lainnya saling menguatkan dan mengokohkan. Tidak terbesit satu pemikiran pun bagi orang yang sadar tentang identitasnya sebagai seorang muslim untuk mencederai dan menghancurkan saudaranya, karena pada hakikatnya penghancuran yang satu sama saja menghancurkan yang lain termasuk dirinya sendiri. Dengan kata lain, bahwa umat Islam antara yang satu dengan yang lainnya tak dapat dipisahkan. Sebagaimana yang telah disabdakan oleh Rasulullah Saw. dalam haditsnya.
 >>مَثَلُ الْقَائِمِ عَلَى حُدُودِ اللَّهِ وَالْوَاقِعِ فِيهَا كَمَثَلِ قَوْمٍ اسْتَهَمُوا عَلَى سَفِينَةٍ فَأَصَابَ بَعْضُهُمْ أَعْلَاهَا وَبَعْضُهُمْ أَسْفَلَهَا فَكَانَ الَّذِينَ فِي أَسْفَلِهَا إِذَا اسْتَقَوْا مِنْ الْمَاءِ مَرُّوا عَلَى مَنْ فَوْقَهُمْ فَقَالُوا لَوْ أَنَّا خَرَقْنَا فِي نَصِيبِنَا خَرْقًا وَلَمْ نُؤْذِ مَنْ فَوْقَنَا فَإِنْ يَتْرُكُوهُمْ وَمَا أَرَادُوا هَلَكُوا جَمِيعًا وَإِنْ أَخَذُوا عَلَى أَيْدِيهِمْ نَجَوْا وَنَجَوْا جَمِيعًا<<
“Perumpamaan orang-orang yang mencegah berbuat maksiat dan yang melanggarnya adalah seperti kaum yang menumpang kapal. Sebagian dari mereka berada di bagian atas dan yang lain berada di bagian bawah. Jika orang-orang yang berada di bawah membutuhkan air, mereka harus melewati orang-orang yang berada di atasnya. Lalu mereka berkata: ‘Andai saja kami lubangi (kapal) pada bagian kami, tentu kami tidak akan menyakiti orang-orang yang berada di atas kami’. Tetapi jika yang demikian itu dibiarkan oleh orang-orang yang ada di atas (padahal mereka tidak menghendaki), akan binasalah seluruhnya, dan jika dikehendaki dari tangan mereka keselamatan, maka akan selamtlah semuanya”. (HR. Bukhori)
Pemuda/mahasiswa merupakan aset yang berharga bagi umat ini. Mahasiswa memiliki potensi yang lebih dalam hal fisik, intelektual maupun intelejensinya. Potensi itulah yang harus dicurahkan semaksimal dan seoptimal mungkin untuk membangkitkan dirinya dan umat Islam ini dari keterpurukan yang telah lama menyelimuti umat ini. Sudah seharusnya seorang pemuda atau mahasiswa berperan aktif untuk mengubah realita tersebut baik yang menimpa umat Islam pada khususnya maupum manusia pada umumnya. Walaupun itu adalah sesuatu yang berat, tetapi itu bukan sesuatu yang tidak mungkin diwujudkan. Sebagai konsekuensinya, butuh perjuangan yang ekstra keras dan konsisten. Itulah pemuda/mahasiswa harapan umat yang mampu mengeksplorasi dan mengeksploitasi potensinya serta berjuang bersama umat menuju kebangkitan yang hakiki.

Menentukan Arah Perjuangan Mahasiswa
Jika kita melihat Indonesia, terutama pasca tahun 1945, seringkali arah dan tujuan perjuangan mahasiswa itu tidak jelas baik dalam tataran konsep maupun metode praktisnya untuk menuju tujuan tersebut. Walaupun menurut mereka hal itu nampak jelas di hadapannya, apalagi ketika mereka berhasil menjatuhkan rezim yang ada baik pada tahun 1966 maupun tahun 1998. Akan tetapi, mereka seolah gagap ketika konsep apa yang akan dipakai ketika suatu rezim itu dijatuhkan. Tidak jelas. Ibarat memberikan sebuah cek kosong yang sudah ditandatangani, yang kemudian dapat diisi berapapun nominal yang diiinginkan oleh yang diberi. Itulah yang terjadi di negeri ini, keadaan sebelum tahun 1966 sama saja dengan sesudah tahun 1966. Begitupun sebelum tahun 1998 sama saja keadaanya dengan sesudah tahun 1998 bahkan keadaannya tambah parah, walaupun mereka menyebutnya era pasca 1998 adalah era reformasi.
Untuk menentukan arah perjuangan ini, tentu kita harus tahu dengan sejelas-jelasnya apa yang harus diperjuangkan atau apa goal setting dari perjuangan itu. Supaya kita tahu apa yang menjadi goal setting dari perjangan ini dan bagaimana cara memperjuangkan tujuan tersebut, maka setidaknya kita sebagai seorang muslim harus tahu dan sadar bahwa tujuan dari segala tujuan dalam perjuangan ini hanyalah satu yaitu totalitas dalam mengabdi kepada Allah Swt. dengan melaksanakan seluruh perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Bahkan perjuangan itu sendiri pun adalah bagian penting dalam pengabdian diri kepada Allah Swt. Akan tetapi, terkadang kaum muslim sulit untuk merinci langkah demi langkah perjuangan ini, sehingga seolah-olah terlihat asal-asalan dalam berjuang dan meraih hasil yang minimal bahkan tidak ada bekasnya. Untuk itu, setidaknya kaum muslim terutama pemuda/mahasiswa harus mengetahui dan memahami tiga hal berikut: 1) Bagaimana mengidentifikasi permasalahan utama dalam masyarakat, 2) Solusi dari permasalah utama, dan 3) Bagaimana merealisasikan solusi bagi permasalahan utama.
1. Sebelum kita tahu permasalahan utama dalam masyarakat ini, maka kita pun harus memahami bahwa yang menjadi indikator suatu masyarakat itu baik atau rusak, setidaknya ada tiga hal yang dapat kita amati dengan jelas yaitu kesejahteraan, ketenteraman, dan kemajuan. Dengan ketiga indikator ini kita pun akan mengetahui bahwa fakta masyarakat sekarang ini adalah sedang rusak. Kemudian muncul pertanyaan, “Apa yang rusak dalam suatu masyarakat yang rusak?”. Selain itu, kita pun harus memahami realita dari masyarakat itu sendiri, karena masyarakat inilah yang menjadi objek perjuangan kita. Dalam ensiklopedinya, Amir F. Hidayat menuliskan bahwa masyarakat atau yang dikenal dengan istilah society adalah sekelompok orang yang membentuk sebuah sistem semi tertutup (atau semi terbuka), di mana sebagian besar interaksi adalah antara individu-individu yang ada dalam kelompok tersebut. Setidaknya ada dua unsur penting yang membentuk masyarakat yaitu kumpulan individu itu sendiri dan ikatan yang mendominasi kumpulan individu itu dan menjamin kontinuitas interaksi antar individu. Ikatan itu sendiri adalah pemikiran, perasaan, dan aturan (sistem). Dari dua unsur masyarakat ini dengan semua realita yang terjadi di dalamnya, kita akan mengetahui bahwa yang menjadikan masyarakat rusak adalah rusaknya ikatan yang ada di dalamnya, yang secara langsung akan berdampak pada rusaknya individu-individu pada masyarakat.
Suatu ikatan dalam masyarakat pasti didasari oleh suatu paradigma berfikir tertentu. Kita pun dapat melihat dengan jelas, bahwa ikatan yang ada pada masyarakat saat ini bukanlah berlandaskan pada akidah Islam. Hal ini terbukti saat ini aturan Allah Swt. tidak dijadikan sebagai landasan dalam pilar-pilar ikatan di masyarakat yaitu berupa sistem sosial, ekonomi, pendidikan, pemerintahan dan politik luar negeri.
Selanjutnya, kita harus mengetahui kriteria apa saja yang dapat menjadi permasalahan utama. Mengetahui hal ini akan berpengaruh terhadap proritas tindakan dan sikap kita dalam perjuangan ini. Pertama, suatu masalah dikatakan masalah utama atau isu utama apabila masalah tersebut berkaitan dengan kewajiban. Sebagai contoh, seorang muslim sedikit banyak akan memiliki sikap yang berbeda terhadap shaum wajib dan shaum sunnah. Kedua, masalah hidup dan mati. Sebagai contoh sederhana, ketika seorang muslim sedang mengerjakan sholat wajib bersamaan itu ada seorang anak yang hampir tenggelam di sebuah kolam dekat seorang muslim tadi, maka dia wajib menolong anak itu walaupun kewajiban sholatnya belum sempurna dikerjakannya. Begitupun, syara' telah menetapkan aqidah dan kepemimpinan kaum muslim dalam masalah hidup mati. Ketiga, masalah yang dampaknya luas. Sebagai contoh, kebijakan seorang ketua RT akan memiliki dampak yang berbeda dengan kebijakan seorang SBY.
Dengan kriteria-kriteria dari permasalahan utama yang ada dan tidak dijadikannya aturan Allah Swt. sebagai dasar/landasan dari pilar-pilar ikatan dalam masyarakat, maka semakin jelas bahwa permasalahan utama dalam masyarakat kita sekarang adalah tidak diterapkannya hukum Allah Swt. sebagai aturan yang mengatur interaksi-interaksi di tengah masyarakat.
إِنِ الْحُكْمُ إِلَّا لِلَّهِ أَمَرَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ
“Keputusan itu hanyalah kepunyaan Allah. Dia telah memerintahkan agar kamu tidak menyembah selain Dia. Itulah agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui." (TQS. Yusuf [12]: 40)
فَاحْكُمْ بَيْنَهُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ وَلَا تَتَّبِعْ أَهْوَاءَهُمْ عَمَّا جَاءَكَ مِنَ الْحَقِّ
“Maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang Allah turunkan dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu.”  (TQS. Al Maidah [5]: 48)
أَفَحُكْمَ الْجَاهِلِيَّةِ يَبْغُونَ وَمَنْ أَحْسَنُ مِنَ اللَّهِ حُكْمًا لِقَوْمٍ يُوقِنُونَ
“Apakah hukum Jahiliyah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin?“ (TQS. Al Maidah [5]: 50)
2. Setelah kita mengetahui permasalahan utama masyarakat ini, maka kita pun akan mengetahui solusi dari masalah utama tersebut. Jika tidak diterapkannya hukum Allah Swt. menjadi biang dari segala masalah, maka solusinya tidak lain adalah menerapkan kembali hukum Allah Swt. tersebut di tengah-tengah masyarakat. Aturan itu akan bisa diterapkan dan direalisasikan di tengah-tengah masyarakat, jika ada suatu institusi politik tertinggi yaitu negara, hal yang tak dapat dibantah lagi walaupun oleh seorang ahli tata negara atau ahli hukum sekalipun. Dari berbagai pengkajian terhadap hukum syara’ dan siroh nabawiyah, bahwa institusi politik kaum muslim adalah Daulah Islamiyah atau Khilafah Islamiyah yang dipimpin oleh seorang Khalifah. Hal itu karena Khalifah:
a.    Sebagai pemilik kekuasaan (authority) yang harus ditaati
 يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآَخِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا   
“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, Maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.” (TQS. An Nisa [4]: 59)
>>إِنَّهَا سَتَكُونُ بَعْدِي أَثَرَةٌ وَأُمُورٌ تُنْكِرُونَهَا قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ كَيْفَ تَأْمُرُ مَنْ أَدْرَكَ مِنَّا ذَلِكَ قَالَ تُؤَدُّونَ الْحَقَّ الَّذِي عَلَيْكُمْ وَتَسْأَلُونَ اللَّهَ الَّذِي لَكُمْ<<
“Sesungguhnya setelah masaku akan datang suatu keadaan yang tidak disukai dan hal-hal yang kalian anggap munkar.” Mereka bertanya, “Wahai RasuluLloh SAW., apa yang engkau perintahkan kepada seseorang di antara kami yang menjumpainya?’ Beliau menjawab, “Kalian harus menunaikan hak yang telah dibebankan atas kalian dan meminta kepada Alloh hak yang menjadi milik kalian.” (HR Muslim)
b.    Sebagai pengurus kaum muslim setelah wafatnya RasuluLloh SAW.
>>كَانَتْ بَنُو إِسْرَائِيلَ تَسُوسُهُمْ الْأَنْبِيَاءُ كُلَّمَا هَلَكَ نَبِيٌّ خَلَفَهُ نَبِيٌّ وَإِنَّهُ لَا نَبِيَّ بَعْدِي وَسَتَكُونُ خُلَفَاءُ تَكْثُرُ قَالُوا فَمَا تَأْمُرُنَا قَالَ فُوا بِبَيْعَةِ الْأَوَّلِ فَالْأَوَّلِ وَأَعْطُوهُمْ حَقَّهُمْ فَإِنَّ اللَّهَ سَائِلُهُمْ عَمَّا اسْتَرْعَاهُمْ  <<
“Dulu Bani Israil diurusi para nabi. Setiap kali seorang nabi meninggal, nabi yang lain menggantikannya. Sesungguhnya tidak ada nabi sesudahku dan akan ada para khalifah, dan mereka banyak.” Para Sahabat bertanya, “Lalu apa yang engkau perintahkan kepada kami?” Nabi SAW. Bersabda, “Penuhilah bai’at yang pertama, yang pertama saja. Berikanlah kepad mereka hak mereka karena sesungguhnya Alloh akan meminta pertanggungjawaban mereka atas apa yang mereka urus.” (HR Muslim)

3.    Hal yang tak kalah pentingnya adalah bgaimana merealisasikan solusi bagi permasalahn utama mayarakat tersebut. Ada dua pendapat Islami mengenai hal ini. Pertama, bahwa penegakkan khilafah harus dengan cara melakukan perlawanan bersenjata terhadap penguasa sekarang. Hal itu didasarkan pada hadits Rasulullah Saw.:
>>قَالَ خِيَارُ أَئِمَّتِكُمْ الَّذِينَ تُحِبُّونَهُمْ وَيُحِبُّونَكُمْ وَيُصَلُّونَ عَلَيْكُمْ وَتُصَلُّونَ عَلَيْهِمْ وَشِرَارُ أَئِمَّتِكُمْ الَّذِينَ تُبْغِضُونَهُمْ وَيُبْغِضُونَكُمْ وَتَلْعَنُونَهُمْ وَيَلْعَنُونَكُمْ قِيلَ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَفَلَا نُنَابِذُهُمْ بِالسَّيْفِ فَقَالَ لَا مَا أَقَامُوا فِيكُمْ الصَّلَاةَ   <<
“Sebaik-baik imam (pemimpin) kalian adalah yang kalian cintai dan mereka pun mencintai kalian serta yang senantiasa kalian do’akan dan mereka mendo’akan, sejelek-jeleknya pemimpin kalian adalah yang kalian benci dan mereka juga membenci kalian serta kalian melaknat mereka dan mereka juga melaknat kalian. ‘Kalian bertanya: Wahai RasuluLloh, tidakkah kami dizinkan untuk memerangi mereka?’ Tidak, selama mereka masih menegakkan sholat di tengah-tengah kalian.” (HR Muslim)
Kedua, bahwa penegakkan khilafah yaitu dengan metode mencari nushroh kepada orang-orang yang berpengaruh di tengah-tengah masyarakat. Hal itu didasarkan pada aktifitas RasuluLloh SAW selama ada di Makkah, hingga tegaknya Daulah Islam untuk kali pertama di Madinah.
Kami melihat bahwa pendapat kedua yang paling rajih. Hal itu karena pada pendapat pertama ada kesalahpahaman terhadap kontes hadits tersebut. Pada hadits tersebut tersirat bahwa Rasululloh SAW memerintahkan untuk memerangi pemimpin yang tidak menerapkan hukum Alloh SWT padahal pada saat itu negara yang ada masih dalam status Daulah Islam atau Dar al Islam. Oleh karena itu, hadits ini tidak relevan untuk diterapkan sekarang, karena pada saat ini tidak ada satupun negeri islam yang berpredikat Dar al islam. Sedangkan pada pendapat kedua, keadaan RasuluLloh pada saat di Makkah serupa dengan keadaan kaum muslim saat ini yaitu tidak adanya Dar al islam, sehingga apa yang dilakukan oleh RasuluLloh SAW di makkah hingga tegaknya Daulah Islam di madinah sudah semestinya menjadi batasan dan tauladan kaum muslim saat ini dan ini menjadi sesuatu yang relevan pada saat ini.
Rasulullah Saw. memulai perjuangannya dengan mempersiapkan individu-individu untuk dibina dengan tsaqofah islam. Setelah RasuluLloh SAW berhasil menanamkan kepribadian islam kepada para kadernya, bersama mereka Rasululloh melakukan perang pemikiran dan perjuangan politik di kota Makkah dengan menyerang dan memutus ikatan-ikatan kufur yang ada pada masyarakat Makkah. Rasul pun terus melakukan hal ini secara kontinu disertai dengan mencari nushroh kepada tokoh dan kabilah-kabilah di Makkah, namun setelah 13 tahun pertolongan untuk menegakkan syari’at dan daulah islam tidak kunjung menemui titik terang. Hingga datang pertolongan Allah Swt. dengan hadirnya tokoh-tokoh Madinah yang sanggup menolong, melindungi, dan menopang dakwah Rasululloh beserta para pengikutnya. Sebelumnya, Rasulullah Saw. pun melakukan hal yang sama di Madinah seperti di Makkah dengan perantara Mush’ab ibn Umair hingga pertolongan itupun datang kepada Rasulullah Saw. setelah beliau meminta komitmen mereka untuk menolong dakwah islam dan bersama-sama untuk menyebarkannya ke penjuru dunia.
Itulah sekilas perjuangan Rasulullah Saw. hingga beliau dengan pertolongan Allah Swt. mampu menegakkan Daulah Islam untuk kali pertama di kota Madinah yang menjadi cikal bakal mercusuar dalam pencerahan pemikiran manusia di dunia. Arah perjuangan inilah yang semestinya menjadi arah perjuangan mahasiswa, perjuangan yang berbasis pemikiran, bersifat politis, tanpa kekerasan (laa maadiyah) dan visioner. Perjuangan yang berlandaskan pada akidah Islam dan totalitas dalam mengabdi kepada Allah Swt. Perjuangan yang disertai dengan kayakinan teguh terhadap janji dari Yang Tidak Pernah Menyalahi Janji.
وَعْدَ اللَّهِ لَا يُخْلِفُ اللَّهُ وَعْدَهُ وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ
“(Sebagai) janji yang sebenarnya dari Allah. Allah tidak akan menyalahi janjinya, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (TQS. Ar Ruum [30]: 6)
Sumber : [pemuda/syabab.com]

Friday, April 20, 2012

Harapan Kepada Presiden dan Wapres BEM Terpilih


Assalamu'alaykum
Salam Mahasiswa...Usai sudah Pesta Demokrasi kampus Pelangi, namun ini bukanlah akhir dari pergerakan mahasiswa. melainkan langkah awal untuk memulai kembali perjuangan dengan pergantian kepemimpinan baru. Di tangannyalah luapan Asa Cipil society kampus, di pundaknayalah tumpahan harapan terciptanya student goerment yang lebih baik. Mahasiswa tentu tidak berharap terlalu banyak apalagi menginginkan hal yang muluk-muluk, melainkan hanya satu kata yang terus menggema dalam relung batin mahasiswa yaitu adanya perubahan yang lebih baik, baik dari segi manajemen maupun program-programnya, serta bersungguh-sungguh dalam melakukan advokasi terhadap kebijakn birokrasi kampus yg merugikan masyarakat kampus.Sahabat Mahasiswa,tentu Kita sepakat dan berharap bahwa pemimpin yang terpilih hendaknya menjadi Inspirator keteladanan bagi yang di pimpinnya dan yang terdepan dalam mengawal kebijakan-kebijakan kampus yang tidak (pro mahasiswa) atau berpihak kepada mahasiswa. sosok pemimpin yang mampu memadukan antara nilai-nilai intelegensi quitiont, emotional quation dan spiritual quation dan profesionalisme harus menjadi ruh kepemimpinannya, (Ary Ginanjar;2001"Leadership Principle").
Pemimpin yang baik adalah pemimpin yang mampu melawan nafsu keserakahan, idealis sebagai agent of change mampu ditegakkan, bukan malah tergadaikan atau malah menjual kepercayaan orang-orang yang di pimpinnya. Ada begitu banyak pemimpin yang kalah dan bahkan gagal dalam melawan nafsu keserakahannya, sehingga mereka berselingkuh kepada pembuat kebijakan (birokrasi kampus) karena kepentingan-kepentingan sesaat, dan akibatnya pemimpin seperti ini menghalalkan segala cara untuk mendapatkan sesuatu sesuai dengan kehendak nafsunya dan berusaha untuk selalu menutup-nutupi kebijkan-kebijakan manajemen kampus yang tidak berpihak kepada mahasiswa.
Sahabat Mahasiswa, ketika Negara ini di sibukkan oleh pengungkapan kasus kasus KKN yang notabennya di lakukan  Oleh Para pemimpin Negeri  ini, adalah gambaran mereka yang tak mampu membendung keserakahannya, yang tidak menyadari bahwa pemimpin bukan dilayani namun melayani. begitupun para birokrat di kampus  yang kita cintai ini, baik dari kalangan mahasiswa maupun lembaga. yang tidak bermental demokratis dalam memberikan keluasaan kepada mahasiswa untuk bebas berkreasi dan berekspresi dan selalu ingin di layani harus  segera  di akhiri...
Kini sudah saatnya pemimpin harus memberikan pelayanan yang terbaik kepada mahasiswa, karna mahasiswalah yang telah menghantarkannya  menjadi seorang pemimpin.
Sahabat Mahasiswa..., Jika  SELAMA INI kita hanya mampu membaca  sejarah orang lain, maka sudah saatnya skarang kitalah yang menjadi PELAKU SEJARAH. Kitalah yang harus  menciptakan peristiwa yang elak akan di kenang oleh generasi mendatang. dan Kita tahu  bahwa sejarah adalah rentetan peristiwa masa  lalu yang menjadi kenangan untuk di ambil hikmahnya oleh orang-orang saat ini.
"Selamat Menciptakan perubahan sahabat"
" Selamat kepada Eko Prasetyo dan Putra Sastaman, Masyarakat Kampus  pelangi Menunggu Karya-Karyamu"
 BY : Bayu Indra Pratama (Kadiv. KP Komsat  kAMMI STKIP-PGRI Pontianak)

Monday, April 16, 2012

Okikunattara Masjidil Haram no Imam ni naritai !!

Namanya Ibrahim, berumur kira-kira 4 tahun. Lahir dari pasangan muslim Pakistan dan muslimah Jepang. Jika ditanya cita-cita "Kalau sudah besar mau jadi apa?" Jawaban tegasnya selalu membuat bulu tangan berdiri. "Okikunattara Masjidil Haram no Imam ni naritai ! (Kalau sudah besar pengen jadi Imam di Masjidil Haram!). " Di usianya yang masih belia, Ibrahim hapal hampir seluruh juz ke-30 Al-Quran. Sebuah prestasi yang menggembirakan bagi seorang anak yang dididik dalam lingkungan negeri yang tidak mengenal agama seperti Jepang.

Namanya Ismail, berumur sekitar 4 atau 5 tahun. Lahir daripasangan muslim Afrika dan muslimah Jepang. Jika ditanya tentang cita-cita, jawabannya akan polos terdengar. "Okikunattara suika ni naritai (Kalau sudah besar ingin jadi buah semangka)" Jawaban khas anak kecil yang mungkin akan membuat orang dewasa tersenyum geli. Namun tidak begitu jika ditanya "Ismail orang mana?" Sosok kecilnya akan tegas menjawab "Boku wa Isuramu jin da yo (Aku orang Islam). " Sosok kecil Ismail mungkin belum mengenal nama-nama negara di dunia, yang ia tahu hanyalah kebanggaan menjadi orang Islam – seorang anak muslim yang lahir di negeri sakura.


Tidak hanya Ibrahim dan Ismail, ada si kecil yang bernama Aisha, Nurjanah, Sahar, Samar, Hasan, Jibril, Thalhahserta beberapa jundi cilik lainnya yang tinggal di negeri sakura. Umumnya mereka terlahir dari pasangan campuran muslim asing dengan muslim Jepang. Tidak seperti anak-anak muslim di Indonesia, mungkin mereka jarang sekali mendengarkan adzan di masjid, tidak bisa sering berkumpul dengan sesama anak muslim lainnya, sulit mendapatkan buku cerita anak tentang Islam serta kurang memiliki lingkungan kondusif untuk belajar agama.

Dengan kondisi seperti ini, tidak salah jika para orang tua mereka begitu giat ingin menanamkan jiwa mencintai Allah dan Rasulullah saw sejak masih dalam buaian. Setiap dua pekan sekali ataupun dalam acara khusus, saya memiliki kesempatan bertemu dengan para jundi ini di sebuah masjid di sekitar kawasan Tokyo. Jarak perjalanan yang jauh sepertinya tidak menjadi halangan. Semata semua dilakukan untuk menambah 'charge' ruhaninya tentang Islam.

Dalam keterbatasan waktu dan ruang, para jundi cilik ini tetap memiliki semangat. Mengikuti dengan mimik serius setiap mendengarkan cerita shirah nabawi ataupun sahabat, tertawa-tawa riang ketika diajarkan huruf hijaiyah dengan permainan kotak dadu, serta kadang terbata-bata berusaha menghapalkan setiap untaian ayat, surat-surat ataupun doa-doa pendek yang dilantunkan bersama di antara kelincahannya sebagai anak-anak. Tak berlebihan rasanya, jika melihat sosok mungilnya yang ceria dengan semangat menyala, ingatan saya selalu melompat pada beberapa cerita tentang para pahlawan cilik di masa Rasulullah saw.


Rafi bin Khudaij pemanah cilik ulung yang pernah ikut dalam jihad di Uhud. Zaid bin Tsabit dalam usianya yang masih belia, diberi kehormatan membawa bendera pasukan muslim saat perang Tabuk karena memiliki hapalan Qur`an yang baik. Salamah bin Akwa yang tekenal sebagai pelari cilik tercepat hingga dapat menahan para perampok unta-unta Rasulullah saw dengan teknik berlarinya. Aisyah binti As-Shiddiq gadis cilik cerdas banyak mengetahui tentang Al-Qur`an, hadits, ataupun syair. Pahlawan cilik yang dalam usia belia, begitu bangga dengan izzah sebagai muslim. Dengan gagah berani membela Islam. Memerangi kezaliman dengan kecerdasan dan keahlian, meski terkadang musuh yang dihadang lebih besar daripada badannya.

Para jundi negeri sakura, mungkin belum tahu tentang cerita kehebatan para pahlawan cilik di atas. Dan mungkin pula kehebatan para jundi negeri sakura belum sebanding dengan para pahlawan cilik di zaman Rasulullah saw. Namun tak berlebihan jika para orang tua termasuk saya, memiliki harapan yang sama. Bahwa para jundi cilik tersebut suatu saat akan menjadi pahlawan pembela Islam di negeri sakura. Dalam jiwa kecilnya, akan tumbuh kebanggaan menjadi seorang muslim. Dapat gagah berani membela Islam. Memiliki sikap tegas berjuang melawan kezaliman berupa serangan pemikiran barat. Tidak terimbas oleh lingkungan sekuler yang siap menghancurkan mutiara imannya.


Perlahan tapi pasti, jundi-jundi cilik di negeri sakura akan tumbuh menjadi generasi yang berjiwa kuat seperti para pahlawan cilik di zaman Rasulullah saw. Mereka akan menjadi penegak panji Allah swt. Yang selalu bangga mengatakan "Saya adalah muslim. " Yang dapat meluaskan syiar Islam hingga semakin menyebar dan kokoh tegak di bumi sakura. Insya Allah.

Sumber: Muallaf Center Online

Sunday, April 15, 2012

URGENSI PEMILU, DI KAMPUS PELANGI


Assalamu'alaykum,
salam Mahasiswa....

Kita tahu kampus ini  merupakan aset bagi Anda semua insan pembelajar, yang datang dari berbagai wilayah kalimantan barat. beraneka ragam corak suku, ras,agama,budaya menjadi khasanah kekayaan tersendiri bagi kampus ini. maka tidaklah berlebihan ketika kampus ini di juluki kampus pelangi. STKIP Pontinak   yang notabennya sebagai  sekolah tinggi pencetak tenaga pengajar yang siap berkontribusi untuk kemajuan pendidkan di kalimantan barat. salah satu hal yang menjadi penopang dalam meningkatkan produktivitas mahasiswa terlihat dari kepekaan mahasiswanya dalam mengikuti perkembangan informasi, ikut andil dalm berbagai event sosial masyarakat, dan pematangan diri dalam kegiatan organisasi karna kampus merupakan laboraturium bagi mahasiswa sebelum terjun kemasyarakat Luas.
Sobat Mahasiswa, kampus ini begitu besar, akan semakin besar, dan kedepannya tidak menutup kemungkinan menjadi salah satu STKIP rujukan di Kal_Bar. termasuk juga kehidupan pergerakan mahasiswa di dalamnya. Dan Salah satu momen terpenting pergerakan Mahasiswa adalah Pemilihan Raya (PEMIRA).
Pemilihan Raya (PEMIRA), merupakan salah satu event tahunan terbesar dan Penting di Kampus ini, karenanya sudah selayaknya perkhelatan demokratisasi ini Mampu menyedot perhatian massa, yang cukup besar. Pemira ajang bagi seluruh mahasiswa aktif STKIP, untuk menyalurkan suara politiknya masing-masing. Dengan tujuan terpilihnya satu orang mahasiswa sebagai Presiden Badan Eksekutif Mahasiswa-Wakil (BEM) REMA STKIP-PGRI Pontianak.
Selayaknya Suatu Pemlihan Raya, akan di Isi Calon-calon kandidat yang memiliki kapasitas dan kapabilitas dalam memimpin. biasanya terjaring dari keaktifannya dalam berorganisasi. mereka akan bertarung merebut simpti masyarakat kampus dengan berbagai cara. untuk ini, tentu masyarakat kampus harus lebih jeli dalam memilih. jangan sampai terperangkap oleh janji-janji yang tidak jelas pembuktiannya.
Terkait dengan pemilihan di kampus yang kita cintai ini, dengan ragam multikultural, tentu sangat di harapkan seorang Presma nantinya, mampu mewakili kepentingan semua mahasiswa, atau representatif.  secara personal maupun secara ideologis, sehingga mencerminkan sosok yang menjadi wakil semua lapisan masyarakat kampus.
Terakhir, dukungan dari berbagai kalangan khususnya Mahasiswa dalam mensukseskan PEMIRA kampus sangat berarti bagi produktifitas kampus ini kedepannya. pilihlah Kandidat yang teruji secara Amal dan Lisannya, dan Pastikan  bahwa diri Kita bagian dari perubahan ini.  SALAM PERJUANGAN!!!
BY : KP KOMSAT KAMMI STKIP Pontiabnak.
Design : tim creatif HUMAS  STKIP Pontianak

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best Buy Coupons