Showing posts with label Hikmah. Show all posts
Showing posts with label Hikmah. Show all posts

Monday, April 16, 2012

Okikunattara Masjidil Haram no Imam ni naritai !!

Namanya Ibrahim, berumur kira-kira 4 tahun. Lahir dari pasangan muslim Pakistan dan muslimah Jepang. Jika ditanya cita-cita "Kalau sudah besar mau jadi apa?" Jawaban tegasnya selalu membuat bulu tangan berdiri. "Okikunattara Masjidil Haram no Imam ni naritai ! (Kalau sudah besar pengen jadi Imam di Masjidil Haram!). " Di usianya yang masih belia, Ibrahim hapal hampir seluruh juz ke-30 Al-Quran. Sebuah prestasi yang menggembirakan bagi seorang anak yang dididik dalam lingkungan negeri yang tidak mengenal agama seperti Jepang.

Namanya Ismail, berumur sekitar 4 atau 5 tahun. Lahir daripasangan muslim Afrika dan muslimah Jepang. Jika ditanya tentang cita-cita, jawabannya akan polos terdengar. "Okikunattara suika ni naritai (Kalau sudah besar ingin jadi buah semangka)" Jawaban khas anak kecil yang mungkin akan membuat orang dewasa tersenyum geli. Namun tidak begitu jika ditanya "Ismail orang mana?" Sosok kecilnya akan tegas menjawab "Boku wa Isuramu jin da yo (Aku orang Islam). " Sosok kecil Ismail mungkin belum mengenal nama-nama negara di dunia, yang ia tahu hanyalah kebanggaan menjadi orang Islam – seorang anak muslim yang lahir di negeri sakura.


Tidak hanya Ibrahim dan Ismail, ada si kecil yang bernama Aisha, Nurjanah, Sahar, Samar, Hasan, Jibril, Thalhahserta beberapa jundi cilik lainnya yang tinggal di negeri sakura. Umumnya mereka terlahir dari pasangan campuran muslim asing dengan muslim Jepang. Tidak seperti anak-anak muslim di Indonesia, mungkin mereka jarang sekali mendengarkan adzan di masjid, tidak bisa sering berkumpul dengan sesama anak muslim lainnya, sulit mendapatkan buku cerita anak tentang Islam serta kurang memiliki lingkungan kondusif untuk belajar agama.

Dengan kondisi seperti ini, tidak salah jika para orang tua mereka begitu giat ingin menanamkan jiwa mencintai Allah dan Rasulullah saw sejak masih dalam buaian. Setiap dua pekan sekali ataupun dalam acara khusus, saya memiliki kesempatan bertemu dengan para jundi ini di sebuah masjid di sekitar kawasan Tokyo. Jarak perjalanan yang jauh sepertinya tidak menjadi halangan. Semata semua dilakukan untuk menambah 'charge' ruhaninya tentang Islam.

Dalam keterbatasan waktu dan ruang, para jundi cilik ini tetap memiliki semangat. Mengikuti dengan mimik serius setiap mendengarkan cerita shirah nabawi ataupun sahabat, tertawa-tawa riang ketika diajarkan huruf hijaiyah dengan permainan kotak dadu, serta kadang terbata-bata berusaha menghapalkan setiap untaian ayat, surat-surat ataupun doa-doa pendek yang dilantunkan bersama di antara kelincahannya sebagai anak-anak. Tak berlebihan rasanya, jika melihat sosok mungilnya yang ceria dengan semangat menyala, ingatan saya selalu melompat pada beberapa cerita tentang para pahlawan cilik di masa Rasulullah saw.


Rafi bin Khudaij pemanah cilik ulung yang pernah ikut dalam jihad di Uhud. Zaid bin Tsabit dalam usianya yang masih belia, diberi kehormatan membawa bendera pasukan muslim saat perang Tabuk karena memiliki hapalan Qur`an yang baik. Salamah bin Akwa yang tekenal sebagai pelari cilik tercepat hingga dapat menahan para perampok unta-unta Rasulullah saw dengan teknik berlarinya. Aisyah binti As-Shiddiq gadis cilik cerdas banyak mengetahui tentang Al-Qur`an, hadits, ataupun syair. Pahlawan cilik yang dalam usia belia, begitu bangga dengan izzah sebagai muslim. Dengan gagah berani membela Islam. Memerangi kezaliman dengan kecerdasan dan keahlian, meski terkadang musuh yang dihadang lebih besar daripada badannya.

Para jundi negeri sakura, mungkin belum tahu tentang cerita kehebatan para pahlawan cilik di atas. Dan mungkin pula kehebatan para jundi negeri sakura belum sebanding dengan para pahlawan cilik di zaman Rasulullah saw. Namun tak berlebihan jika para orang tua termasuk saya, memiliki harapan yang sama. Bahwa para jundi cilik tersebut suatu saat akan menjadi pahlawan pembela Islam di negeri sakura. Dalam jiwa kecilnya, akan tumbuh kebanggaan menjadi seorang muslim. Dapat gagah berani membela Islam. Memiliki sikap tegas berjuang melawan kezaliman berupa serangan pemikiran barat. Tidak terimbas oleh lingkungan sekuler yang siap menghancurkan mutiara imannya.


Perlahan tapi pasti, jundi-jundi cilik di negeri sakura akan tumbuh menjadi generasi yang berjiwa kuat seperti para pahlawan cilik di zaman Rasulullah saw. Mereka akan menjadi penegak panji Allah swt. Yang selalu bangga mengatakan "Saya adalah muslim. " Yang dapat meluaskan syiar Islam hingga semakin menyebar dan kokoh tegak di bumi sakura. Insya Allah.

Sumber: Muallaf Center Online

Tuesday, March 6, 2012

Pelajaran Hidup dari Guru BK


Ibu saya adalah seorang guru BK di salah satu SMP Negeri di pinggiran Jakarta. Sebagai guru BK, hampir setiap hari beliau membawa cerita menarik seputar pengalaman beliau menghadapi siswa-siswinya. Anda tentu tahu, sering kali siswa-siswi yang berhadapan dengan guru BP adalah siswa-siswi yang bermasalah.
Baru-baru ini beliau menceritakan satu pengalaman menarik. Salah satu dari sekian banyak pengalaman yang kurang lebih serupa.
Salah seorang siswa tercatat sudah beberapa kali tidak masuk sekolah tanpa keterangan. Beberapa surat sudah dilayangkan. Akhirnya, karena surat tidak terjawab, ibu saya mendatangi rumah siswa tadi, guna mendapatkan informasi objektif.
Sesampai di rumah siswa tersebut (yang agak sulit ditemukan), ternyata si siswa berada di rumah, dan memang selama membolos anak ini hanya berada di rumah alias tidak ke mana-mana. Siswa ini mengaku tidak masuk karena dipengaruhi teman-teman di lingkungannya. Surat-surat dari sekolah dia tahan, tak disampaikan ke orang tuanya.
Lalu, ke mana orang tuanya?
Bapaknya adalah pengangguran. Kerjanya cuma luntang lantung ke sana kemari. Ibunya buruh cuci, yang sejak pagi buta sampai senja mencuci dan menyeterika di beberapa rumah. Betapa marah dan kecewanya sang ibu begitu mengetahui anaknya selama ini membolos. Para tetangga sampai ikut melerai agar sang ibu tidak kalap.
Pembaca budiman, sebagaimana sudah saya sebutkan sebelumnya, cerita di atas hanyalah satu di antara sekian banyak cerita lainnya yang kurang lebih serupa: kisah anak yang bermasalah (tidak masuk sekolah, menyelewengkan uang bayaran, narkoba, pergaulan bebas), dan orang tua yang kurang berdaya secara ekonomi (buruh cuci, kuli bangunan, tukang becak, penjaja kue).
Nasib seolah mempermainkan orang-orang ini. Lingkaran kemiskinan dan kebodohan seakan tak bisa lepas dan senantiasa menghantui. Jangankan untuk menjadi terpandang secara sosial ekonomi, untuk sekedar hidup rata-rata saja sudah sulit.
Adakah kisah yang berbeda? Kisah yang menceritakan perjalanan sukses anak manusia yang berangkat dari kemiskinan?
Alhamdulillah, dalam konteks kasus yang dihadapi ibu saya, ada beberapa kisah yang layak disyukuri. Tidak semua anak dari latar belakang keluarga kurang mampu harus tenggelam dalam masalah. Ada beberapa anak (yang sayangnya jumlahnya lebih sedikit) yang berhasil melewati situasi sulit, dan kini relatif lepas dari belenggu masa lalu yang morat marit.
Ada anak tukang kue yang sekarang menjadi wiraswastawan (buka rumah makan dan rental komputer). Ada anak perantauan yang semula harus rela tidur di gardu-gardu ronda, kini sudah menjadi bintara TNI. Ada anak tukang bangunan yang kini sudah menjadi guru di sekolah negeri (dan beberapa hari yang lalu baru saja menikah), dan akhirnya menjadi PNS, bahkan sanggup membeli rumah.
Pembaca budiman, bagi saya, kisah sukses kecil-kecilan ini selain patut disyukuri, juga mengajarkan bahwa bukan nasiblah yang mempermainkan kita, namun sikap kita terhadap hiduplah yang seolah menjadi ‘takdir’ bagi kehidupan kita sendiri.
‘Contoh buruk’ dan ‘contoh baik’ tadi mengajarkan bahwa kitalah yang bertanggung jawab terhadap kehidupan kita, bukan orang lain, bukan sekolah, bukan pula lingkungan.
Orang yang gagal dalam kehidupan cenderung menyalahkan segala sesuatu kecuali dirinya sendiri. Banyak variasi masalahnya; gagal ujian (gurunya ngajarnya nggak enak), bolos sekolah (diajak teman), diprotes klien (kliennya cerewet), ditegur atasan (atasan merasa benar sendiri), dikeluhkan rekan sejawat (rekannya enggak bisa kerja sama), diprotes anak buah (anak buah enggak kompeten), sering bertengkar dengan suami/isteri (suami/isteri kurang pengertian), dan sederet kasus lain yang bisa Anda tambahkan sendiri. Dalam setiap kasus, selalu terbuka kemungkinan untuk melemparkan ‘tanggung jawab’ kepada pihak lain.
Pembaca yang baik, saya bukan hendak mengatakan bahwa orang atau situasi di luar kita pasti benar, dan selalu kita yang salah. Bukan itu maksud saya. Memang mungkin terbukti bahwa guru kita mengajarnya kurang enak, atau teman-teman memang mengajak bolos, atau klien memang ternyata cerewet, atau atasan memang terbukti otoriter, atau rekan sejawat kenyataannya memang sulit diajak kerja sama, atau anak buah kita terbukti tidak kompeten. Itu semua bisa jadi benar. Namun yang hendak saya garis bawahi adalah bagaimana kita menyikapi itu semua.
Saya pernah diajar dosen yang menurut saya sama sekali tidak enak cara mengajarnya. Pikiran saya dipenuhi rasa kecewa, dan akibatnya memang nilai saya jelek. Saya segera mencari pembenaran, bahwa saya cuma korban dari ketidakbecusan dosen mengajar. Artinya, saya melempar tanggung jawab (atau nasib saya) ke orang lain (si dosen tersebut). Namun ada teman yang ternyata memperoleh nilai sempurna. Dia menyadari masalah penguasaan mata kuliah adalah tanggung jawabnya. Dia juga berpendapat bahwa dosen tadi mengajarnya tidak enak. Namun dia menyikapinya dengan cara yang berbeda. Dia mencari bantuan dari kakak kelas, dan mencari literatur lain yang membantu meningkatkan pemahamannya. Segala yang dia lakukan itu sebetulnya bisa juga saya lakukan (namun toh tidak saya lakukan, karena pikiran saya yang negatif). Hasil akhirnya: nilainya A, sedangkan saya E. Perbedaan cara kami dalam memandang masalah menghasilkan perbedaan ‘nasib’ yang luar biasa.
Dari sekian uraian di atas, dapatlah kita menyimpulkan bahwa cara kita memandang masalah boleh jadi adalah pangkal dari masalah itu sendiri.
Oleh : Sabrul Jamil

Monday, March 5, 2012

Pelangi Indah Karna Aneka Warna Yang Menghiasinya

Sering kali kita menjadi terpecah belah karena adanya perbedaan.
Tapi sesungguhnya jika kita mengamati lebih dalam lagi tentang arti dari perbedaan maka perbedaan itu adalah anugerah dari Yang Maha Kuasa!
Lihatlah sekeliling kita, indahnya warna-warni bunga, aneka jenis satwa, dan segala keragaman lain yang menghiasi dunia.
Bayangkan kalau kita hanya mengenal warna hitam saja! Alangkah gelapnya dunia ini!!
Tanpa adanya perbedaan dan warna-warni kehidupan, kita tidak akan merasakan hidup semeriah dan seindah sekarang ini, betul?!!
Begitu pun dengan kehidupan, setiap insan selalu berhadapan dengan segala macam perbedaan dan warna-warni kehidupan.
Tapi sayang, tidak semua orang mampu melihat perbedaan sebagai kekayaan. Banyak orang merasa tersiksa karena perbedaan alias mereka tidak mampu menikmatinya.
Berbagai bentuk kejahatan dimulai hanya karena perbedaan. Entah itu perbedaan warna kulit, agama, suku bangsa, prinsip, atau sekadar perbedaan pendapat!
Sebenarnya, perbedaan bukanlah sesuatu yang bisa dihindari. Setiap orang lahir dengan perbedaan dan keunikannya masing-masing. Mulai dari perbedaan fisik, pola fikir, kesenangan, dan lain-lain.
Tidaklah mungkin segala sesuatu hal sama. Bahkan kesamaan pun sebenarnya tidak selalu menguntungkan. Coba bayangkan, seandainya semua orang memiliki kemampuan memimpin, lantas siapa yang mau dipimpin? Kalau semua orang menjadi orang tua, siapa yang mau jadi anak? Siapa juga yang akan menerima sedekah, jika semua orang ditakdirkan kaya?
Perbedaan ada bukan untuk dijadikan alat perpecahan. Banyak hal positif yang bisa kita peroleh dengan perbedaan. Namun, tentu saja semua itu harus dalam kondisi-kondisi tertentu.

Nah, kondisi apa saja yang harus dipenuhi? Berikut di antaranya :

1.Cara pandang kita terhadap perbedaan
Berfikirlah positif dengan mensyukuri adanya perbedaan. Anggaplah perbedaan sebagai kekayaan. Cara pandang yang benar akan melahirkan sikap yang tepat. Ada baiknya kita mencari persamaan terlebih dahulu, sebelum mencari perbedaan.

2.Kelola perbedaan sebaik mungkin
Musyawarah untuk mencapai kesepakatan adalah jalan yang tepat untuk mengelola perbedaan. Berlatihlah untuk menghargai, menerima, menjalankan dan bertanggung jawab terhadap keputusan bersama, meski berlawanan dengan ide awal kita.

3.Selalu posisikan segala sesuatu pada tempatnya
Saat bekerja sama dengan orang lain, salurkan potensi, karakter, minat yang
berbeda-beda pada posisi yang tepat. Cara ini akan mendorong tercapainya
tujuan bersama dan mendukung pengembangan potensi masing-masing
individu.

4.Jangan pernah meremehkan orang lain
Apapun dan bagaimana pun kondisi atau pendapat orang lain, perlakukan mereka selayaknya diri kita ingin diperlakukan. Anggaplah semua orang penting. Mereka memiliki peran tersendiri, yang bisa jadi tidak bisa digantikan oleh orang lain.

5.Jangan menonjolkan diri atau sombong
Merasa diri paling penting dan lebih baik daripada orang lain tidak akan menambah nilai lebih bagi kita. Toh kita tidak bisa hidup tanpa orang lain. Jadilah beton dalam bangunan. Meski tidak nampak, namun sesungguhnya ialah yang menjadi penyangga kokohnya sebuah bangunan!

6.Cari sumber informasi yang terjamin kebenarannya
Perbedaan bisa muncul karena informasi yang salah. Oleh sebab itu, pastikan sumber informasi kita bisa terjamin dan dapat dipercaya kebenarannya. Lebih bagus lagi jika disertai bukti yang mendukung.

7.Koreksi diri sendiri sebelum menyalahkan orang lain
Menyalahkan orang lain terus-menerus tidak akan banyak membantu kita. Bisa jadi kesalahan sebenarnya terletak pada diri kita. Karenanya, koreksi diri sendiri terlebih dahulu merupakan langkah yang paling bijaksana.

Kesimpulannya :
Berhentilah menyesali perbedaan! Buatlah hal itu menjadi sesuatu yang menyenangkan dan sumber kekuatan baru. Karena jika tidak, kita akan kehilangan sumber kebahagiaan!

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best Buy Coupons