Wednesday, May 2, 2012

HARDIKNAS antara Harapan Dan Kenyataan

Saya teringat kembali cuplikan film alangkah lucunya Negeri ini, di mana ada sebuah dialog antara bg Muluk dgn bang Samsul.terkait dgn Pendidikan. dalam film ini  Bg Muluk seorang Sarjana Ekonomi setelah pontang-panting mencari kerja, akhirnya mendapatkan pekerjaan. tugasnya memanagemen keuangan Para pencopet. di satu sisi Dia merasa bersalah dengan profesi barunya, mengingat Dia berasal dari keluarga yang taat dalam menjalankan kehidupan sebagai seorang Muslim. di sisi lain Dia ingin agar profesi barunya bisa di manfaatkan sebaik mungkin, toh Dia juga punya tekad untuk memberikan pencerahan kepada para pencopet yg mayoritas adlah anak-anak usia produktif sekolah agar kelak mereka memiliki harapan untuk sukses. dalam menjalankan program-program pengembangan SDMnya, Bang Muluk  merekrut bang Samsul yg notabennya seorang PeDaGang(pengangguran dlam Gang) dgn titel S.Pd untuk membantu memberikan pencerahan kepada anak2 mengajari mereka baca-tulis. suatu ketika, setelah bang Samsul mengajari anak2 pencopet belajar, Bang Muluk berdebat dengan bang Samsul. Bang muluk katakan bahwa pendidikan itu penting, sementara bang amsul bersikeras dengan argumennya bahwa pendidikan itu tidak penting.hingga meraka mencapai sebuah kesepahaman bahwa PENDIDIKAN itu penting. Karena berpendidikan, maka kita tahu bahwa pendidikan itu tidak penting.
sahabat, Saya sepakat bahwa Pendidikan merupak salah satu Pilar penyanggah kebangkitan Negeri ini. Namun Realita skarang menunjukkan, mengapa banyak mereka yang telah belajar di bangku sekolah hingga perguruan tinggi belum mampu mandiri ketika telah selesai sekolah atau mendapatkan gelar sarjana, sementara tujuan pendidikan adalah menjadikan pribadi-pribadi mandiri. pasca sekolah di harapkan para peserta didiknya memiliki karakter mulia, tapi ihatlah kondisi pelajar-pelajar Kita, baru-baru ini habis ujian sekolah, mereka ikut tawuran, membawa senjata tajam, nyerang sekolah lain.
Negeri ini perlu menelaah kembali sistem-sistem pendidikan yang ada, terhitung 9 kali pergantian kurikulum setelah kemerdekaan, belum bisa membuat kemajuan pendidikan di tanah air. bukankah jepang yang saat ini maju, masih kalah start dgn indonesia dalam memajukan pendidikan di negeri masing-masing.  tetapi mengapa mereka bisa lebih maju dari Indonesia.

0 comments:

Post a Comment

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best Buy Coupons